Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Literasi SMP Negeri 2 Parongpong Oleh Hj. Eva Marviana

Membaca merupakan fondasi dasar Pendidikan bangsa, ia akan menjadi penentu arah kemana suatu bangsa akan dibawa, akankah mampu bertahan ataukah hilang terlindas roda zaman. Berdasarkan survei BPS tahun 2020, jumlah buta aksara di Indonesia tinggal 1.71 % (Kompas.com, 06/09/2021), artinya lebih dari 90%  penduduk Indonesia sudah memiliki kemampuan membaca, namun ironinya kemampuan membaca itu tidak berbanding lurus dengan kegemaran membaca. Membaca masih dianggap sebagai aktivitas yang membosankan.  Kita menghadapi kenyataan bahwa membaca belum menjadi budaya dalam masyarakat. Menurut data UNESCO, minat baca Indonesia hanya 0,0001% yang artinya dari 1000 orang hanya 1 orang saja yang rajin membaca. Rendahnya minat baca tersebut terasa begitu nyata dalam keseharian di sekolah. Hari-hari disela-sela kegiatan pembelajaran, baik guru maupun siswa lebih banyak dihabiskan hanya untuk sekedar mengobrol, bercengkrama atau membuka layar gawai. Jauh dari keinginan membaca, meskipun tak sedikit buku berjejer di rak-rak ruang guru, pun perpustakaan.

Pada masa kepemimpinan Menteri Muhajir Efendi telah dimulai sebuah gebrakan di bidang literasi yaitu Gerakan Literasi Sekolah. Siswa diwajibkan untuk membaca sejumlah buku dengan harapan akan menjadikan habituasi membaca bagi siswa bahkan hingga akhir akhir hayatnya. Kebijakan ini disambut antusias oleh berbagai institusi yang kemudian melahirkan kegiatan-kegiatan yang mendorong terjadinya perubahan kemampuan berliterasi. Pada pertengahan tahun 2016, pemerintah provinsi Jawa Barat meluncurkan sebuah program ungulan dalam meningkatkan kegemaran membaca melalui pembiasaan membaca bertajug WJLRC (West Java Leaders Reading Challenge). Program ini adalah sebuah tantangan dari gubernur Jawa Barat kepada seluruh siswa mulai kelas 3 sampai dengan kelas 12 untuk dapat menuntaskan membaca buku minimal 24 buku selama kurun waktu 10 bulan. SMPN 2 Parongpong turut ambil bagian dalam kegiatan ini dengan mengirimkan 10 orang siswa dan 2 guru pembimbing. Keikutsertaan SMPN 2 Parongpong dalam kegiatan ini menjadi langkah awal perjuangan sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi yang berkelanjutan, di lingkungan sekolah pada khususnya dan lingkungan masyarakat pada umumnya.

Pada pelaksanaannya, merubah kebiasaan siswa juga guru untuk gemar membaca tidaklah mudah. Banyak kendala yang dihadapi, diantaranya adalah :

1.   Siswa.

Siswa memiliki motivasi yang rendah untuk membac.  Hal ini mungkin saja disebabkan karena lingkungan yang tidak mendukung hadirnya budaya baca, ditambah lagi minimnya kepemilikan buku-buku non mata pelajaran

2.   Guru dan Tenaga Pendidik.

Selama ini ada anggapan bila literasi hanya milik dari guru-guru bahasa,  sehingga guru-guru mata pelajaran lainnya dan tenaga kependidikan  merasa kurang antusias untuk ikut melaksanakan program-program literasi., Ditambah dengan kesibukan dalam menyelesaikan administrasi serta tanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran yang sangat padat.

3.   Keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah

Minimnya sarana pendukung menjadi kendala yang umum ditemui di sekolah-sekolah, begitu juga di SMPN 2 Parongpong. Di sekolah,  kami tidak memiliki ruang perpustakaan yang representative untuk nyaman dalam membaca, pun jumlah buku non-pelajaran tidak seimbang dengan jumlah siswa.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, sekolah membuat program yang mendukung terbentuknya budaya literasi, yaitu :

1.   Habituasi.

Merubah suatu prilaku agar menjadi karakter seseorang tentu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang sekejap, perlu proses pembiasaan dan waktu yang lama. Oleh sebab itu SMPN 2 Parongpong membuat program untuk mendukung hal tersebut, diantaranya.

a.   Mewajibkan siswa untuk membaca minimal 3 buah buku dalam satu semester dan dibuktikan dengan penulisan reviu serta diorama dunia baca sebagai salah satu syarat siswa untuk dapat mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS)

b.   Secara konsisten mengikuti kegiantan-kegiatan bertajug literasi, seperti TMBB dan GLN Gareulis Jawa Barat, agar siswa dan guru yang mengikuti kegiatan tersebut memiliki target yang terstruktur.

c.   Melaksanakan perlombaan - perlombanan yang bernafaskan literasi baik untuk siswa maupun guru di tingkat sekolah maupun luar sekolah, seperti  lomba menulis puisi, pantun dan cerpen, juga lomba membuat diorama kelas.

Teladan

Memberikan contoh merupakan cara terbaik dalam proses Pendidikan, tak terkecuali  dalam bidang literas. guru tentu saja harus menjadi yang pertama memiliki kegemaran membaca dan menulis sebelum dapat menularkannya kepada siswa. Untuk itulah di SMPN 2 Parongpong memiliki kegiatan :

a.   Kepala Sekolah dan Guru menyampaikan reviu buku yang telah di baca. Setiap satu pekan sekali setelah kegiatan upacara guru akan mempresentasikan buku yang telah ia baca beserta dengan hikmahnya

b.   Meninformasikan hasil reviu guru di madding sekolah, sehingga dapat menjadi contoh bagi siswa.

c.   Melaksanakan kegiatan menulis secara Bersama (Writethon). Kepala sekolah, guru, tenaga pendidik dan siswa secara bersama-sama menulis,  baik itu berupa pantun, ataupun puisi yang kemudian setiap perwakilan kelas membacakan hasil tulisannya.

Motivasi.

Motivasi menjadi hal yang penting, karena tanpanya program sebaik apapun tidak akan dapat dijalankan sebcara maksimal, untuk itulah perlu dilakukan motivasi secara terus-menerus agar semangat dalam berlitarasi tetap terjaga. Kegiatan yang mendukung motivasi ini adalah:

a.   Mengikutsertakan siswa dan guru dalam berbagai kegiatan seminar literasi, khususnya mengenai literasi digital. Dimana diketahui bahwa pada masa industry 4.0 ini, kemampuan digital sangat dibutuhkan, terutama dalam penyampaian informasi dari jejaring internet yang sangat rentan terjadinya penyalahgunaan maupun informasi yang salah (hoaxs)

b.   Mengikutsertakan guru dalam pelatihan menulis. Kegiatan literasi bukan hanya berkaitan dengan membaca saja, namun juga kemampuan menerjemahkan apa yang dibaca maupun apa yang difikirkan menjadi sebuah tulisan. Oleh Karenna itu diperlukan pelatihan khusus untuk menumbuhkembangkan kemampuan tersebut. Jika guru sudah memiliki kematangan dalam menulis, tentu akan menjadi lebih mudah untuk mentransferkan kemampuan tersebut kepada peserta didiknya, minimal kepada siswa yng tergabung dalam kegiatan tantangan litersi

c.   Memberikan penghargaan kepada siswa maupun guru yang memiliki prestasi dalam bidang literasi. Sekolah memberikan apresiasi terhadap pencapain yang didapatkan oleh guru dan siswa sehingga memberikan motivasi tidak hanya untuk yang bersangkutan tetapi juga untuk siswa yang lainnya.

Kerjasama dan kekompakan

Terlaksana dan keberhasilan suatu program sangat ditentukan oleh kondusifitas lingkungan sehingga terjalin kerjasama dan kekompakan, untuk itulah SMPN 2 Parangpong melakukan :

a.   Komunikasi secara intens dengan komite sekolah dan alumni sehingga mereka dapat turut andil khususnya dalam menanggulangi keterabatasan sarana dan prasarana di sekolah. Sebagai contoh orang tua siswa dan alumni memberikan bantuan buku-buku bacaan yang layak dibaca oleh siswa sekolah menengah. Orang tua siswa, melalui paguyuban juga dilibatkan secara aktif untuk menyemarakkan kelas dengan pembuatan pohon geulis atau diorama dunia baca, juga pojok-pojok baca di sekolah.

b.   Pembentukan tim literasi lintas bidang studi. Selama ini ada anggapan bahwa literasi hanya monopoli dari guru rumpun bahasa, sehingga dibutuhkan paradigma baru bahwa kemampuan literasi merupakan tanggungjawab semua guru mata pelajaran. Terlebih pada saat ini, dimana pemerintah menghapuskan system ujian Nasional dan diganti dengan AKM yang pada dasarnya menguji kemampuan literasi baca dan numerasi. Tim GLS SMPN 2 Parongpong terdiri dari guru maple bahasa, IPS, Seni dan Matematika.

Setelah melewati berbagai tantangan dan juga program literasi, lahirlah  beberapa produk literasi SMPN 2 Parongpong. Diantaranya adalah:

1.   Writethon

Adalah sebuah program literasi untuk membangun dan meningkatkan kemampuan menulis siswa dan guru SMPN 2 Parongpong. Teknisnya serupa dengan readathon. Guru dan siswa menulis sebuah tulisan dengan jenis dan tema yang telah ditentukan. Penulisan dilakukan secara serentak dengan durasi waktu yang telah ditentukan juga.

2.   U-tuber (Uniknya Tulisan Berantai)

Produk ini adalah pengembangan dari writethon namun dilakukan secara berkelompok. Sebuah nanggota kelompok. Di awal, didiskusikan terlebih dahulu benang merah dari cerita yang akan dikembangkan. Anggota kelompok yang pertama betugas membuat awal cerita. Anggota selanjutnya melanjutkan cerita yang telah duawali oleh anggota pertama. Dan begitu selanjutnya hingga cerita selesai. Projek U-tuber menuntut kerja sama dan pengembangan imajinasi sebagai salah satu modal dasar menulis. Projek ini telah melahirkan beberapa tulisan cerita yang salah satunya berjudul Legenda Cibadak yang menceritakan legenda terciptanya daerah Cibadak di mana SMPN 2 Parongpong berdiri.

3.   D’Dors ( Di Dupong Ngabodor)

Ini adalah produk baru dari literasi digital Dupong. Ini adalah konten You tube Dupong dengan konsep sketsa-sketsa lucu berbahasa Sunda yang diperankan oleh guru dan siswa Dupong. Konten ini diluncurkan di channel you tube Dupong Bersinar. Sehingga dapat dinikmati secara luas baik oleh warga sekolah maupun umum. Video-videonya berkelanjutan sehingga viewer dapat menikmati terus konten-kontennya. Produk ini jelas menggali bakat dan minat berbagai pihak di sekolah untuk berkolaborasi menghasilkan tayangan. Tayangan-tayangannya juga akan memberikan motivasi bagi siswa lain untuk bisa berkarya baik secara kelompok maupun perseorangan, baik di sekolah maupun mandiri.

4.   1001 Guruku

Produk in adalah yang terbaru. Sama halnya dengan D’TenDors, 1001 Guruku adalah konten You Tube yang menceritakan berbagai karakter guru dengan gaya yang menghibur berbentuk parodi maupun informatif, seperti Sehat Bersama Bu Iis, yaitu konten kesehatan yang dibawkan oleh Bu Iis, salah seorang guru yang juga pemerhati nutrisi.

5.   Jalan Bareng Dudu dan Popong

Konten ini berisi perjalan Dudu dan Popong Bersama para sahabatnya ke berbagai tempat menarik di sekitar sekolah untuk dijadikan bahan sumber belajar selain di sekolah. Contohnya di video berjudul “Seni Pencak Silat Paguron Domas Geger Hanjuang”. Konten semacam ini akan memberikan banyak manfaat bagi siswa. Mereka belajar aktif di masyarakat, juga membangun kepercayaan diri.

 

Program literasi di SMPN 2 Parongpong yang sudah berjalan hampir 5 tahun, sedikit banyaknya telah membuahkan hasil yang memuaskan, hal ini tergambar dari beberapa prestasi yang diraih oleh sekolah, diantaranya :

SMPN 2 Parongpong mendapatkan 4 medali untuk siswa dan 2 medali untuk guru yang berhasil menuntaskan tantangan membaca dari gubernur dalam program WJLRC dan mengikuti jamboree literasi tingkat provinsi di Kiara paying.

Selama 3 tahun berturut-turut menjadi sekolah inspiratif literasi tingkat KBB.

Siswa SMPN 2 Parongpong atas nama Devita Putri Nandini menjadi siswa dengan jumlah baca buku terbanyak. Pada tahun 2019, ia mampu membaca 230 buku dalam 7 bualan tantangan, dan pada tahun berikutnya mampu menyelesaikan lebih banyak buku, yaitu 325 buku.

Guru SMPN 2 Parongpong atas nama Dra Kristiani Prihatiningsih menjadi guru motivator tingkat nasional serta karya puisisnya terpilih sebagai pemenang SELEKSI NASIONAL CIPTA PUISI 2021 dan hasil karyanya diterbitkan dalam kumpulan puisi terbaik berjudul “Seribu Bait Cinta Sang Guru”

SMPN 2 Parongpong dapat menghasilkan 3 antologi dan 2 draf  buku yang merupakan hasil karya seluruh warga dupong, yaitu

a. Buku antologi puisi berjudul Daras Hati

b. Buku antologi pantun berjudul Pena Bertuah

c. Buku antologi cerpen berjudul Lentera Literasi

Selain keberhasilan di atas, program-program literasi yang dijalankan oleh SMPN 2 Parongpong juga telah menunjukann hasil nyata bagi seorang siswa, Siswa yang cukup rajin dan aktif di kelasnya, namun seringkali mendadak pingsan tak sadarkan diri bahkan adakalanya tiba-tiba menangis. Keikutsertaannya dalam tantangan literasi telah merubah pola hidupnya. Meskipun pada awalnya membaca membuatnya jenuh, namun seiring berjalannya waktu kejenuhan berubah menjadi menyenangkan dan mengasyikkan. Sejurus dengan itu, ia tidak pernah tejatuh pingsan lagi karena waktu-waktu disela kegiatan belajar tidak pernah ia biarkan kosong tanpa membaca sebuah buku. Dari hal ini terbukti sudah bahwa literasi memang teramat penting, bukan saja berkaitan dengan hal-hal rumit dan angka-angka peringkat PISA, tetapi ia menjadi nyata sebagai obat. Obat penawar bagi hari dan hati yang kosong, mengisinya dengan keyakinan dan harapan.

Merubah sebuah prilaku menjadi kebiasaan yang baik pasti tidak akan mudah, akan banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Untuk itulah dibutuhkan  perjuangan, kesabaran, keuletan kerjasama, dan program yang secara konsisten dijalankan. Dalam usaha melaksanakan  gerakan literasi sekolah ini,  diharapkan menjadi salahsatu sumbangsih SMPN 2 Parongpong untuk menghadirkan anak-anak yang memiliki wawasan luas, berfir logis dan kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi bahkan dapat menghasilkan karyanya sendiri. Sehingga pada akhirnya membawa masa depan anak dan masa depan bangsa ini ke arah yang jauh lebih baik, menjadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur

Posting Komentar untuk "Literasi SMP Negeri 2 Parongpong Oleh Hj. Eva Marviana"