Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Air Terjun Kehidupan karya

 Pada sebuah gunung yang bernama Jinsei, terdapat sebuah desa terpencil yang sunyi. Desa ini diberi nama Oyaji. Terdapat sebuah air terjun yang diberi nama Seimei No Nagare oleh penduduk karena dari air terjun itulah kebanyakan sumber air yang menghidupi desa berasal.
Di suatu pagi yang berkabut, seorang remaja bernama Ginko melihat kabut di gunung berwarna ungu. Hanya dia seorang yang dapat melihat warna di kabut itu. Anak itu berniat pergi ke air terjun untuk memancing. Didalam kolam air terjun, Ginko melihat seekor ikan Lele yang sangat besar. Anehnya, di kepala ikan itu terdapat banyak rumput. Dia mencoba menangkap ikan itu tetapi usahanya tidak berhasil.

Pada hari selanjutnya, dia berjalan melintasi lereng gunung lagi untuk mencapai air terjun. Kabut yang mengitari gunung berubah warna dari ungu ke emas. Saat dia mencapai air terjun, ia mendapat ikan lebih banyak dari biasanya. Dia percaya bahwa warna kabut di gunung mencerminkan seberapa kaya tanah di sekitar gunung itu. Ginko tidak mengetahui kapan saja dan kenapa kabut tersebut berganti warna.

Sesampainya di rumah, paman Ginko yang merupakan seorang pengembara berkunjung ke rumahnya. Dia bercerita tentang hal-hal mistis yang terjadi selama perjalanannya. Keesokan paginya, Ginko bertanya kepada pamannya apakah dia mengetahui sesuatu tentang kabut itu.
“Paman, apakah paman pernah melihat kabut yang berganti warna?” Tanya Ginko.

Pamannya segera menjawab, “Tidak, paman tidak pernah melihat yang seperti itu. Namun, paman pernah mendengar tentang kabut itu dari orang-orang yang paman temui di kota.”

“Bolehkah aku mendengar ceritanya?” Tanya Ginko penasaran.

“Haha, tentu saja. Akan paman ceritakan padamu.” Balas pamannya.

Menurut rumor yang paman Ginko dengar dari penduduk kota, terkadang kabut yang mengitari gunung atau tingkat kesuburan tanah di persawahan berubah secara berkala. Tingkat kesuburan dan kabut yang berubah ini biasanya berada di sebuah garis atau arus yang mereka sebut ‘Arus Kehidupan’. Yang membuat suatu tanah subur ini disebut ‘Sumber Kehidupan’. Sumber kehidupan ini berpindah tempat melintasi arus kehidupan yang membuat tingkat kesuburan tanah atau warna kabut berubah. Paman Ginko juga mengatakan bahwa kapan berpindahnya sumber kehidupan ini tidak diketahui. Pola waktu perpindahan sumber kehidupan ini terjadi secara acak. Hanya jalur arus kehidupan inilah yang diketahui oleh orang.

“Paman dengar bahwa  gunung ini dilintasi oleh arus kehidupan. Mungkin itu sebabnya terkadang masyarakat disini mendapatkan hasil panen yang berlimpah.” Pikir pamannya.

“Paman, sebenarnya aku...” Ungkap Ginko ragu-ragu. “Ah, lupakan saja.” Paman Ginko terdiam kebingungan.

Beberapa hari kemudian, paman Ginko akan pergi dan melanjutkan perjalanannya. Masih ada satu hal yang membuat Ginko penasaran. Akhirnya Ginko pun memutuskan untuk bertanya kepada pamannya.

“Paman, sebelum paman pergi ada satu hal lagi yang perlu aku tanyakan.” Kata Ginko.

“Apakah paman tahu sesuatu tentang hewan dengan rumput di tubuhnya?”

“Ya, paman pernah mendengar yang seperti itu.” Jawab paman Ginko. “Duduklah dulu disini, akan paman ceritakan padamu.”

Menurut yang Paman Ginko dengar, hewan dengan rumput di tubuhnya merupakan ‘penjaga’ atau ‘tuan’ dari suatu daerah. Mereka biasa ditemui di gunung, air terjun, sungai, laut, dan tempat lainnya. Seorang penjaga atau tuan suatu kawasan tidak selalu berupa hewan. Terkadang, terdapat gunung yang dijaga oleh seorang manusia. Manusia penjaga daerah sering terlihat dengan pakaian yang ditumbuhi oleh tanaman. Seorang penjaga manusia jarang ditemui karena tugas untuk menjaga keseimbangan suatu daerah sangat berat untuk diemban uleh seorang manusia biasa. Meski begitu, seseorang yang dapat menjadi penjaga dapat hidup dalam jangka waktu yang lama sesuai dengan kondisi tanah yang dijaganya.

Setelah selesai bercerita, paman Ginko berpamitan kepada Ginko dan pergi. Cerita yang diceritakan paman Ginko membuat dia semakin penasaran tentang ikan Lele besar yang ditemuinya di air terjun. Dia berniat untuk pergi ke air terjun itu dan mencari ikan tersebut.

Pada suatu pagi, Ginko pergi ke air terjun untuk mencari ikan Lele yang dia duga merupakan penjaga dari gunung ini. Waktu terus berlalu dan Matahari sudah tenggelam. Ginko bersiap-siap untuk pulang. Tiba-tiba, muncul sesuatu yang bercahaya dari dalam air terjun. Dia memasuki air terjun itu dan melihat sebuah gua besar yang lantainya digenangi air. Ginko kebingungan, sebelumnya tidak pernah ada gua dibalik air terjun ini.

Ginko berjalan lebih dalam kedalam gua sampai pada akhirnya, dia menemukan sebuah kolam besar yang bercahaya. Didalam air kolam itu, Ginko melihat seekor ikan Lele yang sangat besar dengan rumput di kepalanya. Ikan itu menatap Ginko dan berkata.

“Ginko... Selamat datang di rumahku.” Sambut Lele tersebut.

Ginko kaget saat mendengar ikan Lele itu berbicara. Dia terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.

“Apakah engkau adalah penjaga gunung ini?” Tanya Ginko.

Ikan Lele itu menjawab, “Ya, akulah penjaga gunung ini. Akulah yang menjaga kestabilan gunung ini agar kehidupan di gunung ini makmur.”

“Mengapa engkau menunjukan tempat tinggalmu yang sangat indah ini kepadaku?” Tanya Ginko kepada sang penjaga.

Sang penjaga pun berkata bahwa dia menunjukan tempat tinggalnya kepada Ginko karena dia adalah anak yang spesial. Penjaga itu mengatakan bahwa energi kehidupan yang ada di gunung Jinsei melemah. Dia khawatir akan ada sesuatu terjadi nantinya. Dan jika sesuatu terjadi di kemudian hari, dia ingin mewariskan tugas sebagai penjaga gunung kepada Ginko. Ginko menolak karena takut dia tidak bisa menanggung tugas yang berat seperti itu. Sang penjaga meyakinkan Ginko bahwa hanya dia di desa Oyaji yang dapat menjadi seorang penjaga gunung Jinsei. Ginko terdiam karena memikirkan banyak hal di benaknya. Setelah itu, Ginko memutuskan untuk menerima apa yang diperintahkan oleh sang penjaga. Setelah mendengar jawaban Ginko, sang penjaga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Ginko.
Tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi bersinar terang. Terangnya ruangan itu membuat Ginko tidak bisa melihat dan menutup matanya. Saat matanya dibuka kembali, dia sudah berada di luar air terjun. Ginko berjalan pulang ke rumahnya. Saat dia sampai di desa, seluruh orang yang melihatnya datang berlari ke arahnya dan bertanya apakah dia tidak apa-apa. Mereka mengatakan bahwa Ginko sudah menghilang selama satu minggu. Padahal, Ginko merasa dia hanya pergi selama satu jam didalam gua.

Beberapa bulan telah berlalu dan apa yang dikhawatirkan sang penjaga menjadi kenyataan. Arus kehidupan yang melintasi gunung Jinsei seperti berpindah jalur. Gunung Jinsei memuntahkan lahar dan membuat hutan terbakar. Akibat dari ledakan gunung itu, air terjun Seimei No Nagare surut dan hanya menyisakan sebuah kolam dangkal. Masyarakat desa Oyaji mengalami krisis air dan Ginko merasa dia harus menemui sang penjaga gunung. Dia berlari menuju air terjun yang sekarang hanya tersisa kolam dan mencari ikan Lele penjaga gunung itu. Setelah berjam-jam mencari, Ginko tidak tahu harus bagaimana. Dia hampir menyerah dalam mencari sampai dia menemukan sesuatu di air. Ginko menemukan telur ikan di tengah kolam. Anehnya, telur ikan itu berwarna hijau dan tampak mengeluarkan cahaya. Tanpa pikir panjang, Ginko langsung memakan telur ikan itu. Sayangnya, itu adalah terakhir kalinya Ginko terlihat.

Beberapa minggu kemudian, air terjun yang surut mulai dialiri air lagi. Mulai dari hal itu, seluruh gunung bangkit lagi dari abu. Perlahan tapi pasti, gunung Jinsei kembali ke kondisi semulanya. Dengan bantuan masyarakat desa, gunung itu memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih sepenuhnya. Meski sudah terlihat membaik, gunung itu tidak pernah sama seperti dulu. Kabut yang menyelimuti gunung tidak memiliki warna lagi.

Kehilangan Ginko masih menjadi misteri bagi masyarakat desa. Setelah generasi terus berlalu, masyarakat desa terkadang melihat orang yang tidak dikenal yang memakai baju yang terbuat dari sutra lokal dan topi yang ditumbuhi tumbuhan. Orang itu memiliki rambut dan mata berwarna hijau. Dia seringkali terlihat sedang berbicara kepada seekor ikan Lele yang sangat besar. Orang itu pun akan menghilang saat fajar datang.

Posting Komentar untuk "Air Terjun Kehidupan karya "