Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Leon dan Pohon Mistik yang Bijak

Pada suatu hari di desa kecil bernama Rowansville, hidup seorang anak lelaki bernama Leon. Keluarga Leon bukan keluarga yang kaya, tetapi mereka selalu bersyukur atas apa yang mereka punya. Orang tua Leon hanya petani biasa, karena itulah Leon bercita-cita mengubah nasib keluarganya dengan menjadi seorang Ksatria.

Saat Leon menginjak usia 12 tahun, orang tuanya memberikan hadiah kepada Leon. Betapa terkejutnya dia, orang tuanya memberi Leon sebuah miniatur Ksatria padanya. Meski hanya sebuah miniatur, benda itu dilapisi dengan besi asli.

“Ayah, Ibu, miniatur ini pasti mahal, kan?” Ucap Leon sambil memegang hadiahnya dengan erat.

Lalu ayahnya berkata “Tidak, Leon, ini tidak mahal. Kamu tidak perlu khawatir.”

“Aku yakin benda ini mahal, benda ini dilapisi oleh besi asli.” balas Leon tidak percaya.

Benda yang diberikan orang tua Leon memang mahal, dan karena orang tua Leon hanya bekerja sebagai petani, mereka harus menabung selama beberapa tahun untuk membeli miniatur Ksatria itu.

“Ayah, Ibu, aku berjanji suatu hari nanti aku akan menggantikan uang yang ayah dan ibu pakai untuk membeli benda ini.” Leon berjanji kepada ayah dan ibunya.

Pada suatu hari, Leon dan teman-temannya sedang bermain di pinggiran hutan. Hutan itu bernama ‘Hutan Agung Rowansville’. Hutan itu dinamakan ‘Agung’ karena hutan tersebut memiliki ukuran yang sangat besar. Saat Leon dan teman-temannya sedang beristirahat di sebuah batang pohon yang sudah tumbang, salah satu teman Leon yang bernama Claude menceritakan sebuah rumor yang tidak sengaja dia dengar saat sedang melintasi jalanan pasar.

“Hey, apa kalian tahu?” Ucap Claude.

Dengan serentak, Leon dan temannya yang lain berkata “tidak.”

“Sudah kuduga kalian akan mengatakan itu.” Ucap Claude sambil tertawa.

“Jadi apa yang mau kamu katakan?” Ucap Leon penasaran.

“Aku tidak sengaja mendengar dua orang pria berbicara tentang harta karun yang berada di tengah Hutan Agung Rowansville.” Ucap Claude memberitahu temannya.

“Apa? Harta karun? Aku tidak yakin apa yang dikatakan pria itu benar.” Balas salah satu temannya sambil menggelengkan kepala.

“Ya, kabar itu meragukan.” Teman lainnya membenarkan pernyataan itu.

Selagi teman-temannya berdebat mengenai kebenaran rumor yang dikatakan Claude, Leon terdiam. Wajah Leon terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal. Leon teringat akan janjinya kepada ayah dan ibunya.

“Jika kabar yang dikatakan Claude benar, pasti akan banyak sekali harta, kan?” Pikir Leon dalam hati. “Jika aku pergi mencarinya, aku akan menjadi kaya dan dapat menepati janjiku, kan?”

Setelah berdebat dengan teman-temannya, Claude teralihkan perhatiannya kepada Leon. Leon masih tampak sedang memikirkan banyak hal di benak kepalanya.

“Hei, Leon, bagaimana pendapatmu mengenai kabar itu?” Tanya Claude.

Leon kaget, lalu menjawab “Aku tidak yakin, tapi kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencoba mencarinya, kan?”

“Ya, aku setuju denganmu, Leon.” Ucap Claude dengan wajah penuh senyuman’

Saat Leon mengatakan hal itu, semua teman lainnya terdiam. Setelah selesai bermain, Leon dan Claude berjalan berdua ke rumah mereka karena rumah mereka searah. Saat sedang berjalan, Claude tiba-tiba berkata kepada Leon.

“Hei, aku jadi teringat oleh perkataanmu tentang harta karun itu tidak bisa dipastikan keberadaannya jika kita tidak mencarinya.” Ucap Claude kepada Leon. “Jadi bagaimana jika kita cari saja harta karun itu?”

Leon kaget mendengar ide Claude itu, tetapi dia teringat kembali akan janjinya kepada orang tuanya. Pada akhirnya, Leon dan Claude memutuskan untuk mencoba mencari harta karun itu dan berencana akan bertemu di pinggir hutan tempat dia dan teman-temannya bermain. Hari mulai gelap dan Leon tidak bisa berhenti berpikir tentang rencananya untuk mencari harta karun di Hutan Agung Rowansville.

Hari sudah berganti dan pada pagi harinya, Leon mengemasi beberapa barang kedalam sebuah tas. Dia mengemasi beberapa makanan, sebuah ketapel, dan sebuah pisau kecil yang biasa ia pakai untuk berkebun. Ia pun berangkat ke tempat pertemuan. Setelah dia sampai di pinggir hutan, dia menemui Claude yang sudah menunggunya.

“Oh, ternyata kau benar-benar datang. Apa saja yang kau bawa di dalam tas itu?” Tanya Claude dengan semangat.

“Hanya beberapa makanan, sebuah ketapel dan... Sebuah pisau kecil.” Ucap Leon menjelaskan.

“Lalu apa yang kau bawa?” Tanya Leon kepada Claude.

Claude menjawab, “Aku membawa makanan, obat-obatan, ramuan, dan perban.”

“Baiklah, kita siap.” Ucap Leon. “Ayo kita masuki hutan ini.”

Leon dan Claude pun memasuki Hutan Aguung Rowansville. Suasana di dalam hutan berbeda dengan suasana di luar. Hutan itu gelap dan dingin, sedangkan diluar terang dan hangat. Setelah mereka berjalan cukup jauh kedalam hutan, mereka melihat seekor Rusa betina terperangkap jebakan pemburu. Kaki Rusa itu terlilit oleh tali yang membuatnya tidak bisa bergerak.

“Kalian, bisakah kalian menolongku?” Ucap Rusa itu meminta pertolongan.

Leon dan Claude terkejut melihat Rusa itu berbicara kepada mereka.

“Kau bisa bicara?” Ucap Claude sambil ketakutan.

“Ya, aku berbeda dari Rusa lainnya. Apa kalian akan menolongku?” Minta Rusa betina itu.

Tanpa pikir panjang, Leon mengeluarkan pisau kecil dari tasnya dan memotong tali yang mengikat Rusa betina itu.

“Terima kasih, anak-anak. Bolehkah aku tahu nama kalian?” Tanya Rusa itu setelah mngucapkan terima kasih.

“Ya, aku Leon, dan yang disebelahku ini adalah temanku, Claude.” Jawab Leon.

“Apa yang dilakukan anak-anak seusia kalian di hutan ini?” Tanya Rusa betina itu penasaran.

“Kami ingin mencari harta karun di tengah hutan ini!” Jawab Claude dengan semangat.

“Harta karun? Aku pernah mendengar itu. Aku memiliki sebuah informasi sebagai tanda terima kasihku.” Ucap Rusa itu “Hanya ada satu orang yang tahu dimana lokasi pasti harta karun itu, dan orang itu adalah sang Pohon Mistik yang Bijak. Kalian dapat menemukan dia di tengah hutan ini, tepat di seberang sungai. Tetapi berhati-hatilah, ada seorang Raksasa yang menjaganya.”

Leon dan Claude mendengarkan dengan baik, lalu mengucapkan terima kasih kepada Rusa itu dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah anak sungai. Beruntung, mereka dapat melewati anak sungai itu dengan mudah karena ada loncatan batu. Setelah mereka melewati sungai itu, mereka melihat seorang Raksasa. Raksasa itu juga melihat mereka, dan mulai berlari ke arah mereka. Leon dan Claude berlari mencoba menjauhi Raksasa itu, tetapi mereka kurang cepat dibandingkan dengan raksasa itu. Leon pun berhenti dan mengambil ketapel dari tasnya, sedangkan Claude masih terus berlari.

Raksasa itu berhasil menangkap Leon, dan mengangkatnya ke depan wajahnya. Dengan cepat, Leon menggunakan ketapel di tangannya dan menyakiti mata Raksasa itu. Raksasa itu kesakitan dan menjatuhkan Leon dari ketinggian. Leon pun mendapatkan luka yang cukup parah. Setelah Raksasa itu berlari menjauh, Claude berlari ke arah Leon. Melihat Leon yang kesakitan, Claude mengeluarkan sebuah ramuan penyembuh dan menuangkan itu ke mulut Leon. Dia juga menutupi luka Leon dengan melilitnya dengan perban. Mereka berdua pun beristirahat di bawah sebuah pohon.

Setelah beberapa saat beristirahat, kondisi Leon mulai membaik. Dengan ragu, Claude bertanya kepada Leon.

“Bagaimana jika kita pulang saja?” Tanya Claude

“Tidak, kita sudah sampai sejauh ini. Kita tidak bisa pulang begitu saja.” Tolak Leon. “Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.”

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka. Setelah kurang lebih setengah jam berjalan, mereka melihat sebuah pohon besar yang memiliki wajah. Pohon itu tampak sangat tua. Mereka berdua bertanya kepada pohon itu.

“Apakah anda adalah Pohon Mistik yang Bijak?” tanya Leon.

“Ya.” Jawab pohon itu.

“Apakah kalian memiliki pertanyaan?” Pohon itu berbalik bertanya.

“Kami mendengar anda tahu dimana letak harta karun hutan ini. Bisakah anda memberi tahu kami?” tanya Leon dengan sungguh-sungguh.

Pohon itu menjawab, “Harta itu adalah hutan ini sendiri dengan sumber daya alam di dalamnya. Kalian pasti sudah bertemu dengan Raksasa, kan? Tugas sebenarnya dari raksasa itu adalah untuk menjaga hutan ini dari perusak.”

Mendengar jawaban dari Pohon Mistik yang Bijak, Leon dan Claude pun sadar. Mereka pun kembali ke rumahnya dan memberi tahu seluruh desa tentang kebijakan yang diberikan oleh Pohon Mistik yang Bijak. Tidak semua orang percaya apa yang mereka katakan itu, tetapi setidaknya orang tua mereka dan teman-temannya percaya.

Leon, Claude, dan teman-temannya pun menjaga hutan itu agar tidak ada yang merusaknya. Leon dapat menepati janji kepada orang tuanya, dia menemukan tanaman obat yang lalu dijualnya untuk menggantikan uang orang tuanya. Berkat itu, orang-orang desa menjadi percaya akan omongan Leon dan Claude dan tidak berlebihan mengambil sumber daya dari hutan itu.

Kabar mengenai kisah heroik Leon dan Claude sampai ke telinga Raja. Raja menyadari bahwa alam itu penting bagi manusia maupun hewan-hewan. Saat Leon dan Claude berusia 15 tahun, mereka dipanggil ke Istana Raja. Mereka berdua diangkat menjadi Ksatria oleh Raja sendiri dan menjadikan teman-temannya pengikut dari Leon dan Claude. Cita-cita Leon terwujud dan dia dapat mengubah nasib keluarganya. Leon, Claude, dan kawannya bersumpah untuk menjaga tanah air mereka sampai akhir hayat.

Posting Komentar untuk "Leon dan Pohon Mistik yang Bijak"